Å›rotrÄdÄ«nÄ«ndriyÄnÌ£y anye
samÌyamÄgnisÌ£u juhvati
Å›abdÄdÄ«n visÌ£ayÄn anya
indriyÄgnisÌ£u juhvati
Å›rotra-ÄdÄ«ni—seperti proses mendengar; indriyÄnÌ£i—indera-indera; anye—orang lain; samÌyama—mengekang; agnisÌ£u—di dalam api-api; juhvati—mempersembahkan; śabda-ÄdÄ«n—getaran suara dan sebagainya; visÌ£ayÄn—obyek-obyek kepuasan indera-indera; anye—orang lain; indriya—indera-indera;agnisÌ£u—di dalam api-api; juhvati—mereka mengorbankan.
Para anggota empat bagian kehidupan manusia, yaitu, brahmacari, grhastha, vanaprastha, dan sannyāsī, semua dimaksudkan untuk menjadi yogi atau rohaniwan yang sempurna. Oleh karena kehidupan manusia tidak dimaksudkan untuk menikmati kepuasan indera-indera seperti binatang, empat tingkat kehidupan manusia tersusun sedemikian rupa agar seseorang dapat menjadi sempurna dalam kehidupan rohani. Para brahmacari, atau murid-murid di bawah pengawasan guru kerohanian yang dapat dipercaya, mengendalikan pikiran dengan berpantang kepuasan indera-indera. Seorang brahmacari hanya mendengar kata-kata tentang kesadaran Krishna. Mendengar adalah prinsip dasar untuk pengertian; karena itu, seorang brahma cari yang murni sepenuhnya menekuni harer namanukirtanam—memuji dan mendengar kebesaran Tuhan. Dia mengekang Diri-Nya dari getaran suara material. Dengan demikian, pendengarannya digunakan untuk menekuni getaran suara rohani Hare Krishna, Hare Krishna. Begitu pula, orang yang berumahtangga, yang mempunyai sejenis izin untuk kepuasan indera-indera, melakukan perbuatan seperti itu dengan sangat mengendalikan diri. Hubungan suami isteri, mabuk-mabukan dan makan daging adalah kecenderungan umum masyarakat manusia, tetapi orang berumah tangga yang teratur tidak melakukan hubungan suami-isteri maupun kepuasan indera-indera lainnya secara tidak terbatas. Karena itu pernikahan berdasarkan prinsip-prinsip hidup beragama masih ada dalam semua masyarakat yang beradab, sebab itulah cara untuk mengadakan hubungan suami-isteri secara terbatas. Hubungan suami isteri yang terbatas dan tidak terikat seperti ini juga merupakan sejenis yajñā, sebab orang berumah tangga yang mengendalikan diri mengorbankan kecenderungan umum kepuasan indera-indera dalam hatinya demi kehidupan rohani yang lebih tinggi.