karmaṇaiva hi saḿsiddhim
āsthitā janakādayaḥ
loka-sańgraham evāpi
sampaśyan kartum arhasi
karmaṇā—oleh pekerjaan; evā—walaupun; hi—pasti; saḿsiddhim—di dalam kesempurnaan; āsthitāḥ—terletak; janaka-ādayaḥ—Janaka dan raja-raja lainnya; loka-sańgraham—rakyat umum; evā api—juga; sampaśyan—dengan mempertimbangkan; kartum—bertindak; arhasi—patut bagimu.
Raja-raja seperti Janaka, semua sudah insaf akan diri; karena itu, mereka tidak diwajibkan melakukan tugas-tugas yang telah ditetapkan dalam Veda. Walaupun demikian, mereka melaksanakan segala kegiatan yang telah ditetapkan hanya untuk memberikan contoh untuk rakyat umum. Janaka adalah ayah Sita dan mertua Sri Rāma. Sebagai seorang penyembah.
Tuhan yang mulia, dia mantap dalam kedudukan rohani, tetapi karena dia menjadi rājā Mithila (sebagian dari propinsi Bihar di India), dia harus mengajarkan para warga negaranya cara melakukan tugas-tugas kewajiban yang telah ditetapkan. Sri Krishna dan Arjuna, kawan Krishna yang kekal, tidak perlu bertempur dalam perang Kuruksetra , tetapi mereka bertempur untuk mengajarkan rakyat umum bahwa kekerasan juga diperlukan bila argumentasi yang baik gagal dilaksanakan. Sebelum perang Kuruksetra , segala upaya telah ditempuh untuk menghindari perang, bahkan oleh Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa sekalipun, tetapi pihak lawan telah bertekad. Karena itu, demi tujuan yang benar, pertempuran diperlukan. Walaupun orang yang mantap dalam kesadaran Krishna barangkali tidak mempunyai kepentingan di dunia, namun ia masih bekerja untuk mengajar rakyat cara hidup dan cara bertindak. Orang yang berpengalaman dalam kesadaran Krishna dapat bertindak dengan cara sedemikian rupa supaya orang lain akan ikut, dan hal ini dijelaskan dalam ayat berikut.