evaḿ pravartitaḿ cakraḿ
nānuvartayatīha yaḥ
aghāyur indriyārāmo
moghaḿ pārtha sa jīvati
evam—demikian; pravartitam—ditetapkan oleh Veda; cakram—lingkaran; na—tidak; anuvartayāti—mulai mengikuti; iha—dalam hidup ini; yaḥ—orang yang;agha-āyuḥ—yang kehidupannya penuh dosa; indriya-ārāmaḥ—dipuaskan dalam kepuasan indera-indera; mogham—secara tidak berguna; pārtha—wahai puteraPṛthā (Arjuna); saḥ— dia; jīvati—hidup.
Filsafat orang yang mendewakan uang, yaitu bekerja dengan membanting tulang dan menikmati kepuasan indera-indera" disalahkan di sini oleh Krishna. Karena itu, bagi orang yang ingin menikmati dunia material ini, lingkaran pelaksanaan yajña-yajna tersebut di atas adalah syarat mutlak. Orang yang tidak mengikuti peraturan seperti itu hidup dengan cara yang mengandung resiko besar sekali, dan dia akan semakin dikutuk. Menurut hukum alam, bentuk kehidupan manusia ini khususnya dimaksudkan untuk keinsafan diri, melalui salah satu di antara tiga cara—yaitu, karma-yoga, jñāna-yoga, atau bhakti-yoga. Rohaniwan-rohaniwan yang berada di atas dosa dan perbuatan yang baik dan buruk tidak diharuskan mengikuti pelaksanaan yajña-yajna yang telah ditetapkan secara ketat; tetapi orang yang sibuk dalam kepuasan indera-indera perlu disucikan oleh lingkaran pelaksanaan yajñā tersebut di atas. Ada berbagai jenis kegiatan. Orang yang belum sadar akan Krishna tentu saja sibuk dengan kesadaran yang dipusatkan pada indera-indera; karena itu, mereka perlu melakukan pekerjaan yang saleh. Sistem yajñā di rencanakan sedemikian rupa agar orang yang sadar akan indera-indera dapat memuaskan keinginannya tanpa menjadi terikat dalam reaksi pekerjaan untuk memuaskan indera-indera. Kemakmuran dunia tidak tergantung pada usaha-usaha pribadi kita, melainkan pada apa yang diatur di latar belakang dunia oleh Tuhan Yang Maha Esa, yang dilaksanakan secara langsung oleh para dewa. Karena itu, yajña-yajna ditujukan langsung kepada dewa-dewa tertentu yang tersebut dalam Veda. Secara tidak langsung, itu merupakan pelaksanaan kesadaran Krishna, sebab apabila seseorang menguasai pelaksanaan yajñā-yajna, pasti ia menjadi sadar akan Krishna Tetapi kalau seseorang tidak menjadi sadar akan Krishna dengan melaksanakan yajñā-yajna, maka prinsip-prinsip tersebut hanya dihitung sebagai rumus-rumus moral. Karena itu, hendaknya seseorang jangan membatasi kemajuannya hanya sampai tingkat rumus-rumus moral, tetapi sebaiknya ia melampaui rumus-rumus itu untuk mencapai kesadaran Krishna.