yatato hy api kaunteya
puruṣasya vipaścitaḥ
indriyāṇi pramāthīnii
haranti prasabhaḿ manaḥ
yatataḥ—sambil berusaha; hi—pasti; api—walaupun; kaunteya—wahai putera Kuntī ; puruṣasya—milik seorang manusia; vipaścitaḥ—penuh dengan pengetahuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk; indriyāṇi—indera-indera; pramāthīni—menggoyahkan; haranti—membuang; prasabham—dengan kekuatan; manaḥ—pikiran.
Ada banyak resi yang bijaksana, filosof dan rohaniwan yang berusaha menaklukkan indera-indera, tetapi walaupun mereka berusaha keras, yang paling mulia di antara merekapun kadang-kadang jatuh menjadi korban kenikmatan indera-indera material karena pikiran yang goyah. Visvamitra seorang resi yang besar dan yogi yang sempurna, juga digoda dan disesatkan oleh Menaka hingga menikmati hubungan suami-isteri, walaupun yogi itu sedang berusaha untuk mengendalikan indera-inderanya dengan jenis-jenis pertapaan yang keras dan latihan yoga. Tentu saja ada banyak contoh yang serupa dalam sejarah dunia. Karena itu, sulit sekali mengendalikan pikiran dan indera-indera tanpa sadar akan Krishna sepenuhnya. Tanpa menjadikan pikiran tekun di dalam Krishna, seseorang tidak dapat menghentikan kesibukan material seperti itu. Salah satu contoh yang nyata diberikan oleh Sri Yamunacarya, orang suci dan penyembah yang mulia, yang berkata:
yad-avadhi mama
cetaḥ kṛṣṇa-pādāravinde
nava-nava-rasa-dhāmany udyataḿ rantum āsīt
tad-avadhi bata nārī-sańgame smaryamāne
bhavati mukha-vikāraḥ suṣṭhu
niṣṭhīvanaḿ ca
Semenjak pikiranku menekuni bhakti kepada kaki-padma Sri Krishna, dan aku menikmati rasa rohani yang selalu semakin baru, bilamana aku memikirkan hubungan suami-isteri dengan seorang wanita, aku segera membuang muka dari hal itu, dan aku meludah bila hal itu terlintas pada pikiranku.
Kesadaran Krishna adalah hal yang begitu baik secara rohani sehingga dengan sendirinya kenikmatan material menjadi hal yang tidak menyenangkan. Hal ini seperti orang lapar yang sudah memuaskan rasa laparnya dengan makan makanan bergizi secukupnya. Maharājā Ambarisa juga mengalahkan seorang yogi yang besar bernama Durvasa Muni, hanya karena pikirannya tekun dalam kesadaran Krishna (sa vai manaḥ kṛṣṇa padaravindayor vācamsi vaikunthaguṇānuvarnane).