duhÌ£khesÌ£v anudvigna-manÄhÌ£
sukheṣu vigata-spṛhaḥ
vÄ«ta-rÄga-bhaya-krodhahÌ£
sthita-dhīr munir ucyate
duhÌ£khesÌ£u—dalam tiga jenis kesengsaraan; anudvigna-manÄḥ—tanpa digoyahkan dalam pikiran; sukhesÌ£u—di dalam suka; vigata-sprÌ£haḥ—tanpa merasa tertarik; vÄ«ta—bebas dari; rÄga—ikatan; bhaya—rasa takut; krodhaḥ—dan marah; sthita-dhÄ«ḥ—yang mantap dalam pikiran; muniḥ—resi; ucyate—disebut.
Kata muni berarti orang yang dapat menggerakkan pikirannya dengan berbagai cara untuk berangan-angan tanpa mencapai kesimpulan yang nyata. Dikatakan bahwa tiap-tiap muni mempunyai segi pandangan yang berbeda, dan kalau seorang muni tidak berbeda daripada muni-muni lainnya, maka dia tidak dapat disebut muni menurut istilah muni yang tepat. Na casav rsir yasya matam na bhinnam (Mahabhārata, Vana-parva 313.117). Tetapi seorang sthitadhir muni, sebagaimana disebut di sini oleh Krishna, berbeda dari muni biasa. Seorang sthitadhir muni selalu sadar akan Krishna, sebab dia sudah menyelesaikan segala urusannya untuk berangan-angan dan menciptakan sesuatu. Dia disebut praśānta-nihsesa-ma no-rathantara (Strotra-ratna 43), atau orang yang sudah melampaui tingkat angan-angan pikiran dan sudah mencapai kesimpulan bahwa Sri Krishna, atau Vasudeva, adalah segala sesuatu (vasudevah sarvam iti sa mahatma sudurlabhah). Dia disebut seorang muni yang sudah mantap dalam pikirannya. Orang yang sadar akan Krishna sepenuhnya seperti itu sama sekali tidak digoyahkan oleh serangan tiga jenis kesengsaraan, sebab ia menerima segala kesengsaraan sebagai karunia Tuhan. Ia menganggap Diri-Nya hanya memenuhi syarat untuk mendapat kesulitan yang lebih banyak karena perbuatan salah yang telah dilakukannya pada masa lampau. Dia juga melihat bahwa kesengsaraannya dikurangi atas berkat karunia Tuhan sampai tingkat yang paling rendah sekali. Begitu pula, apabila dia berbahagia dia memuji Tuhan, dengan menganggap Diri-Nya tidak patut mendapat kebahagiaan seperti itu; dia menginsafi bahwa hanya karena berkat karunia Tuhan dia berada dalam keadaan yang menyenangkan dan dapat mengabdikan diri kepada Tuhan dengan cara yang lebih baik.Demi bhakti kepada Tuhan, dia selalu berani, giat dan tidak dipengaruhi oleh ikatan maupun rasa benci. Ikatan berarti menerima benda-benda untuk kepuasan indera-indera sendiri dan ketidakterikatan berarti tidak ada ikatan terhadap indera-indera seperti itu. Tetapi orang yang mantap dalam kesadaran Krishna tidak mempunyai ikatan maupun ketidakterikatan sebab kehidupannya sudah dipersembahkan dalam pengabdian kepada Tuhan. Karena itu, dia sama sekali tidak marah walaupun usaha-usahanya tidak mencapai sukses. Sukses maupun tidak sukses, orang yang sadar akan Krishna selalu mantap dalam ketabahan hatinya.