sva-dharmam api cÄveksÌ£ya
na vikampitum arhasi
dharmyÄd dhi yuddhÄc chreyo 'nyat
ksÌ£atriyasya na vidyÄte
sva-dharmam—prinsip-prinsip dharma itu sendiri; api—juga; ca—memang; aveksÌ£yÄ—mengingat; na—tidak pernah; vikampitum—ragu-ragu; arhasi—patut bagi engkau; dharmyÄt—demi prinsip-prinsip dharma; hi—memang; yuddhÄt—daripada bertempur; śreyaḥ—kesibukan yang lebih baik; anyat—sesuatu yang lain; ksÌ£atriyasya—milik seorang ksatriya; na—tidak; vidyÄte—ada.
Di antara empat golongan administrasi di masyarakat, demi baiknya soal administrasi ada golongan kedua yang disebut ksatriya. Ksat berarti menyakiti. Orang yang memberikan perlindungan terhadap hal-hal yang menyakitkan disebut ksatriya (trāyate—memberikan perlindungan). Para ksatriya dilatih untuk membunuh di hutan. Seorang ksatriya dengan pedangnya pergi ke hutan dan bertarung melawan seekor harimau satu lawan satu. Setelah harimau terbunuh, ia diberikan upacara pembakaran mayat sesuai dengan adat kerajaan . Sistem tersebut diikuti sampai sekarang oleh para rājā ksatriya di negara bagian Jaipur. Para ksatriya dilatih secara khusus untuk menyerang dan membunuh dengan kekerasan berdasarkan prinsip-prinsip dharma, kadang-kadang merupakan unsur yang diperlukan. Karena itu, para ksatriya tidak pernah dimaksudkan untuk langsung memasuki tingkat sannyāsa, atau tingkat melepaskan ikatan. Tanpa kekerasan di bidang politik barangkali menjadi siasat diplomatik, tetapi hal itu tidak pernah menjadi unsur pokok atau prinsip. Di dalam undang-undang hukum dharma dinyatakan:
āhaveṣu mitho
'nyonyaḿ
jighāḿsanto mahī-kṣitaḥ
yuddhamānāḥ paraḿ śaktyā
svargaḿ yānty aparāń-mukhāḥ
yajñeṣu paśavo brahman
hanyante satataḿ dvijaiḥ
saḿskṛtāḥ kila mantraiś ca
te 'pi svargam avāpnuvan
Di medan perang, seorang raja atau ksatriya, sambil bertempur melawan raja lain yang iri hati kepadanya, memenuhi syarat untuk mencapai planet-planet surga sesudah meninggal, seperti halnya para brahmaṇā juga mencapai planet-planet surga dengan mengorbankan binatang di dalam api korban suci." Karena itu, membunuh di medan perang berdasarkan prinsip dharma dan membunuh binatang di dalam api korban sama sekali tidak dianggap perbuatan kekerasan, sebab semua orang diuntungkan oleh prinsip-prinsip dharma sehubungan dengan hal-hal ini. Binatang yang dikorbankan mendapat kesempatan untuk segera dilahirkan sebagai manusia tanpa menjalani proses evolusi tahap demi tahap dari bentuk satu ke bentuk lain, dan para ksatriya yang terbunuh di medan perang juga mencapai planet-planet surga, seperti para brahmaṇā yang mencapai planet-planet surga dengan cara menghaturkan korban suci.
Ada dua jenis svadharma, atau tugas-tugas khusus. Selama seseorang belum mencapai pembebasan, ia harus melakukan tugas-tugas sehubungan dengan badan khusus yang dimilikinya, menurut prinsip-prinsip dharma, untuk mencapai pembebasan. Apabila seseorang sudah mencapai pembebasan, maka svadharmanya—atau tugas kewajiban khusus—menjadi rohani dan tidak berada dalam paham jasmani yang bersifat material. Dalam paham hidup jasmani ada tugas-tugas khusus masing-masing bagi brahmaṇā dan ksatriya, dan tugas-tugas seperti itu tidak dapat dihindari. Svadharma ditetapkan oleh Tuhan, dan hal ini akan dijelaskan di dalam Bab Empat. Pada tingkat jasmani, svadharma disebut varnasrama-dharma, atau langkah-langkah manusia untuk mencapai pengertian rohani. Peradaban manusia mulai dari tahap varnasramadharma, atau tugas-tugas khusus menurut sifat-sifat alam tertentu pada badan yang sudah diperoleh. Melaksanakan tugas kewajiban khusus di bidang perbuatan manapun menurut perintah-perintah penguasa-penguasa yang lebih tinggi memungkinkan seseorang naik tingkat sampai tingkatan hidup yang lebih tinggi.