klaibyamÌ mÄ sma gamahÌ£ pÄrtha
naitat tvayy upapadyate
ksÌ£udramÌ hrÌ£daya-daurbalyamÌ
tyaktvottiṣṭha parantapa
klaibyam—kelemahan; mÄ sma—jangan; gamaḥ—mulai mengikuti; pÄrtha—wahai putera PrÌ£thÄ; na—tidak pernah; etat—ini; tvayi—kepada engkau; upadyate—pantas; ksÌ£udram—remeh; hrÌ£daya—dari hati; daurbalyam—kelemahan; tyaktvÄ—meninggalkan; uttisÌ£tÌ£ha—bangun; param-tapa—wahai penghukum musuh.
Arjuna disebut putera Pṛthā, dan Pṛthā adalah adik Vasudeva, ayah Krishna. Karena itu, Arjuna mempunyai hubungan keluarga dengan Krishna. Kalau putera seorang ksatriya menolak bertempur, ia hanya ksatriya dalam nama saja, dan kalau putera seorang brahmaṇā bertindak dengan cara yang tidak suci, ia hanya brahmaṇā dalam nama saja. Ksatriya-ksatriya dan brahmaṇā-brahmaṇā seperti itu adalah Putera-putera yang tidak pantas bagi ayah-ayahnya; karena itu, Krishna tidak menginginkan agar Arjuna menjadi putera ksatriya yang tidak pantas. Arjuna adalah kawan Krishna yang paling dekat, dan secara langsung Krishna membimbing Arjuna di atas kereta, tetapi walaupun ada segala hal yang menguntungkan seperti itu, kalau Arjuna meninggalkan medan perang, ia akan melakukan perbuatan yang hina. Karena itu, Krishna menyatakan bahwa kalau Arjuna bersikap seperti itu, maka itu tidak cocok dengan watak Arjuna. Mungkin Arjuna mengatakan bahwa dia akan meninggalkan medan perang berdasarkan sikap murah hati terhadap Bhīṣma yang paling dihormati beserta sanak keluarganya, tetapi Krishna menganggap sikap murah hati seperti itu hanya merupakan kelemahan hati belaka. Sikap murah hati yang palsu seperti itu tidak dibenarkan oleh penguasa manapun. Karena itu, sikap murah hati seperti itu ataupun apa yang disebut tidak melakukan kekerasan hendaknya ditinggalkan oleh orang seperti Arjuna di bawah bimbingan Krishna secara langsung.