Å›rÄ«-bhagavÄn uvÄca
aÅ›ocyÄn anvaÅ›ocas tvamÌ
prajñÄ-vÄdÄmÌÅ› ca bhÄsÌ£ase
gatÄsÅ«n agatÄsÅ«mÌÅ› ca
nÄnuÅ›ocanti panÌ£dÌ£itÄhÌ£
ÅšrÄ«-bhagavÄn  uvÄca—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; aÅ›ocyÄn—sesuatu yang tidak patut disesalkan; anvaÅ›ocaḥ—engkau menyesalkan; tvÄm—engkau; prajñÄ-vÄdÄn—pembicaraan yang bijaksana; ca—juga; bhÄsÌ£ase—membicarakan; gata—hilang; asÅ«n—hidup; agata—belum lewat; asÅ«n—hidup; ca—juga;na—tidak pernah; anuÅ›ocanti—menyesal; panÌ£dÌ£itÄḥ—orang bijaksana.
Krishna segera mengambil kedudukan sebagai guru dan menegur murid-Nya dengan menyebutkan murid itu orang bodoh secara tidak langsung. Krishna bersabda, Engkau bicara seperti orang yang bijaksana, tetapi engkau tidak mengetahui bahwa orang yang berpengetahuan—orang yang mengerti apa itu badan dan apa itu sang roh—tidak menyesal untuk badan dalam keadaan manapun, baik dalam keadaan hidup maupun keadaan mati." Sebagaimana dijelaskan dalam bab-bab berikut, akan menjadi jelas bahwa pengetahuan berarti mengetahui tentang alam dan kerohanian dan siapa yang mengendalikan kedua-duanya. Arjuna mengatakan bahwa prinsip-prinsip dharma hendaknya lebih dipentingkan daripada politik maupun sosiologi, tetapi dia tidak mengetahui bahwa pengetahuan tentang alam, sang roh dan Yang Mahakuasa lebih penting lagi daripada rumus-rumus dharma. Oleh karena Arjuna kurang memahami hal tersebut, seharusnya dia tidak menyamar sebagai orang yang berpengetahuan tinggi. Dan karena kebetulan Arjuna bukan orang yang berpengetahuan tinggi, sebagai akibatnya dia menyesalkan sesuatu yang tidak patut disesalkan. Badan dilahirkan dan ditakdirkan juga akan dibinasakan, baik hari ini maupun besok; karena itu, badan tidak sepenting sang roh. Orang yang mengetahui tentang hal ini sungguh-sungguh bijaksana, dan bagi orang itu tidak ada alasan lagi untuk penyesalan, walau bagaimanapun keadaan jasmaninya.