tatraivaḿ sati kartāram
ātmānaḿ kevalaḿ tu yaḥ
paśyaty akṛta-buddhitvān
na sa paśyati durmatiḥ
tatra—di sana; evam—dengan demikian; sati—menjadi; kartāram—orang yang bekerja; ātmanām—Diri-Nya; kevalam—hanya; tu—tetapi; yaḥ—siapapun yang;paśyāti—melihat; akṛta buddhitvat—karena kurang cerdas; na—tidak pernah; saḥ—dia; paśyāti—melihat; durmatiḥ—bodoh.
Orang bodoh tidak dapat mengerti bahwa Roh Yang Utama bersemayam di dalam hatinya sebagai kawan dan mengatur perbuatannya. Walaupun tempat, pekerjaan, usaha dan indera-indera adalah sebab-sebab material, sebab utama ialah Yang Mahakuasa, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, seharusnya seseorang tidak hanya melihat empat sebab material tetapi juga melihat Yang Mahakuasa sebagai sebab pelaksana utama. Orang yang tidak melihat Yang Mahakuasa menganggap Diri-Nya sebagai satu-satunya pelaku.