manaḥ-prasādaḥ saumyatvaḿ
maunam ātma-vinigrahaḥ
bhāva-saḿśuddhir ity etat
tapo mānasam ucyate
manaḥ-prasadāḥ—kepuasan pikiran; saumyatvām—tanpa penipuan terhadap orang lain; maunam—sikap serius atau diam; ātmā—terhadap sang diri;vinigrahaḥ—pengendalian; bhava—terhadap sifat seseorang; saḿśuddhiḥ—penyucian; iti—demikian; etat—ini; tapaḥ—pertapaan; mānasam—mengenai pikiran;ucyate—dikatakan sebagai.
Bertapa dengan pikiran berarti melepaskan ikatan pikiran terhadap kepuasan indera-indera. Pikiran harus dilatih supaya selalu merenungkan perbuatan baik untuk orang lain. Latihan pikiran yang terbaik ialah pikiran yang bersifat serius. Hendaknya seseorang jangan menyimpang dari kesadaran Krishna, dan ia harus selalu menghindari kepuasan indera-indera. Menyucikan watak berarti menjadi sadar akan Krishna. Pikiran dapat dipuaskan hanya dengan membawa pikiran jauh dari renungan kenikmatan indera-indera. Makin kita merenungkan kenikmatan indera-indera, makin pikiran kurang puas. Jaman ini pikiran dijadikan sibuk dengan berbagai cara demi kepuasan indera-indera meskipun itu tidak diperlukan. Karena itu, pikiran tidak mungkin puas. Cara terbaik ialah mengalihkan pikiran kepada kesusasteraan Veda, yang penuh ceritera-ceritera yang memuaskan, seperti di dalam Purana-purana dan Mahabhārata. Seseorang dapat memanfaatkan pengetahuan tersebut dan dengan demikian Diri-Nya disucikan. Pikiran hendaknya bebas dari penipuan, dan sebaiknya memikirkan kesejahteraan semua orang. Diam atau sikap serius berarti selalu memikirkan keinsafan diri. Orang yang sadar akan Krishna diam secara sempurna dalam arti ini. Mengendalikan pikiran berarti melepaskan ikatan pikiran terhadap kenikmatan indera-indera. Hendaknya seseorang tulus ikhlas dan terus terang dalam tingkah lakunya, dan dengan demikian menyucikan kehidupannya. Segala sifat tersebut semua merupakan pertapaan dalam kegiatan pikiran.