na rūpam asyeha tathopalabhyate
nānto na cādir na ca sampratiṣṭhā
aśvattham enaḿ su-virūḍha-mūlam
asańga-śastreṇa dṛḍhena chittvā
tataḥ padaḿ tat parimārgitavyaḿ
yasmin gatā na nivartanti bhūyaḥ
tam eva cādyaḿ puruṣaḿ prapadye
yataḥ pravṛttiḥ prasṛtā purāṇī
na—tidak; rūpam—bentuk; asya—dari pohon ini; iha—di dunia ini; tathā—juga; upalabhyate—dapat dilihat; na—tidak pernah; antaḥ—akhir; na—tidak pernah;ca—juga; ādiḥ—awal; na—tidak pernah; ca—juga; samprātiṣṭha—dasar; aśvattham—pohon beringin; enam—ini; su-virūḍha—secara kuat; mūlam—berakar;asańga-śastreṇa—dengan senjata ketidakterikatan; dṛḍhena—kuat; chittvā—memotong; tataḥ—sesudah itu; padam—keadaan; tat—itu; parimārgitavyam—harus dicari; yasmin—di mana; gataḥ—pergi; na—tidak pernah; nivartanti—mereka kembali; bhūyaḥ—lagi; tam—kepada Beliau; evā—pasti; ca—juga; ādyam—asli;puruṣam—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa; prapadye—menyerahkan diri; yataḥ—dari siapa; pravṛttiḥ—awal; prasṛtā—tersebar; purāṇi—tua sekali.
Sekarang dinyatakan dengan jelas bahwa bentuk sejati pohon beringin tersebut tidak dapat dimengerti di dunia material ini. Oleh karena akar pohon tersebut ke atas, perluasan pohon yang sejati berada diujung lain. Kalau seseorang masih terikat di dalam perluasan material pohon tersebut, ia tidak dapat melihat luasnya pohon itu, dan tidak ada orang yang dapat melihat awal pohon itu. Namun orang harus mencari sebabnya. Saya anak ayah saya, ayah saya anak orang ini, dan seterusnya." Kalau seseorang mencari-cari dengan cara seperti itu, akhirnya ia akan sampai kepada Brahma, yang diciptakan oleh Garbhodakakasayi Visnu. Akhirnya, apabila seseorang mencapai kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dengan cara tersebut, itulah penyelesaian pekerjaan riset. Orang harus mencari sumber pohon ini, yaitu Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, melalui hubungan dengan orang yang mempunyai pengetahuan tentang Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa itu. Kemudian berangsur-angsur seseorang dibebaskan dari ikatan terhadap bayangan kesunyataan yang palsu ini melalui pengertian, dan dengan pengetahuan ia dapat memotong hubungan antara Diri-Nya dan bayangan itu dan sungguh-sungguh menjadi mantap di dalam pohon yang sejati.
Kata asańga penting sekali berhubungan dengan hal ini, sebab ikatan terhadap kenikmatan indera-indera dan keinginan untuk berkuasa atas alam material sangat kuat. Karena itu, orang harus mempelajari ketidakterikatan dengan mengadakan diskusi tentang ilmu pengetahuan rohani berdasarkan Kitab-kitab Suci yang dapat dipercaya, dan ia harus mendengar dari orang yang sungguh-sungguh memiliki pengetahuan. Sebab hasil diskusi seperti itu dalam pergaulan dengan para penyembah, ia mencapai kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian hal pertama harus dilakukannya ialah menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kalau seseorang sudah mencapai tempat yang istimewa ia tidak pernah kembali ke dalam pohon palsu ini yang hanya merupakan bayangan yang dicerminkan. Uraian tentang tempat istimewa tersebut diberikan di sini. Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Krishna, adalah akar asli, dan segala sesuatu berasal dari Beliau. Untuk mencapai berkat Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa itu, orang hanya harus menyerahkan diri, dan inilah hasil pelaksanaan bhakti dengan cara mendengar, memuji, dan sebagainya. Krishna adalah sebab perluasan dunia material ini. Hal ini sudah dijelaskan oleh Krishna Sendiri: aham sarvasya prabhāvaḥ. Aku adalah sumber segala sesuatu." Karena itu, orang harus menyerahkan diri kepada Krishna agar ia dapat ke luar dari ikatan pohon beringin kuat tersebut yang berupa kehidupan material. Begitu seseorang menyerahkan diri kepada Krishna, dengan sendirinya ia dibebaskan dari ikatan terhadap perluasan material tersebut.