rajo rÄgÄtmakamÌ viddhi
trÌ£sÌ£nÌ£Ä-saÅ„ga-samudbhavam
tan nibadhnÄti kaunteya
karma-sańgena dehinam
rÄjÄḥ—nafsu; rÄga-Ätmakam—dilahirkan dari keinginan atau hawa nafsu; viddhi—mengetahui; trÌ£sÌ£ṇėdengan hasrat; saÅ„ga—pergaulan; samudbhavam—dihasilkan dari; tat—itu; nibadhnÄti—mengikat; kaunteya—wahai putera Kuntī ; karma-saÅ„gena—oleh pergaulan dengan kegiatan yang dimaksudkan untuk dapat membuahkan hasil atau pahala; dehinam—makhluk yang berada di dalam badan.
Ciri sifat nafsu ialah rasa tertarik antara pria dan wanita. Wanita tertarik pada pria, dan pria tertarik pada wanita. Ini disebut sifat nafsu. Bila sifat nafsu ditingkatkan, seseorang mengembangkan hasrat terhadap kenikmatan material. Dia ingin menikmati kepuasan indera-indera. Demi kepuasan indera-indera, orang dalam sifat nafsu ingin dihormati dalam masyarakat, atau dalam bangsa, dan dia ingin mempunyai keluarga bahagia, dengan anak-anak yang baik, isteri dan rumah. Inilah hasil sifat nafsu. Selama seseorang mempunyai hasrat terhadap hal-hal tersebut, ia harus bekerja dengan giat sekali. Karena itu, dinyatakan dengan jelas di sini, bahwa ia bergaul dengan hasil kegiatannya dan dengan demikian ia diikat oleh kegiatan seperti itu. Seseorang harus bekerja untuk menyenangkan hati isteri, anak-anak dan masyarakatnya dan memelihara prestasinya. Karena itu, seluruh dunia material kurang lebih berada dalam sifat nafsu. Peradaban modern dianggap maju menurut patokan sifat nafsu. Dahulu, sifat kebaikan dianggap sebagai kemajuan. Kalau orang yang berada dalam sifat kebaikan sekalipun tidak mencapai pembebasan, apa yang dapat dikatakan tentang orang yang terikat dalam sifat nafsu?