ye tu dharmÄmrÌ£tam idamÌ
yathoktamÌ paryupÄsate
Å›raddadhÄnÄ mat-paramÄ
bhaktÄs te 'tÄ«va me priyÄhÌ£
ye—orang yang; tu—tetapi; dharma—mengenai dharma; amrÌ£tam—minuman kekekalan; idam—ini; yathÄ—sebagai; uktam—dikatakan; paryupÄsate—tekun sepenuhnya; śraddadhÄnÄḥ—dengan keyakinan; mat-paramaḥ—mengakui Aku, Tuhan Yang Maha Esa, sebagai segala sesuatu; bhaktaḥ—para penyembah; te—mereka; atÄ«va—amat sangat; me—kepada-Ku; priyaḥ—tercinta.
Dalam bab ini, dari ayat dua sampai akhir bab—mulai dari mayy avesya mano ye mam (memusatkan pikiran kepada-Ku") sampai dengan ye tu dharmamṛtam idam (dharma kesibukan yang kekal")—Tuhan Yang Maha Esa sudah menjelaskan proses pengabdian rohani untuk mendekati Beliau. Proses-proses tersebut sangat dicintai oleh Krishna, dan Beliau menerima orang yang menekuni proses-proses itu. Pertanyaan tentang siapa yang lebih baik—orang yang menekuni jalan Brahman yang tidak bersifat pribadi atau orang yang tekun dalam pengabdian pribadi kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa—diajukan oleh Arjuna, dan Krishna menjawab pertanyaan Arjuna dengan cara yang begitu jelas sehingga tidak dapat diragu-ragukan sama sekali bahwa bhakti kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa adalah proses keinsafan rohani yang paling baik. Dengan kata lain, dalam bab ini diputuskan bahwa melalui pergaulan yang baik seseorang dapat mengembangkan ikatan terhadap bhakti yang murni. Dengan demikian ia berguru kepada seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya. Dia mulai mendengar, memuji dan mengikuti prinsip-prinsip yang mengatur bhakti dengan keyakinan, ikatan dan sikap bhakti yang setia atas perintah dari guru kerohanian. Dengan cara demikian dia menjadi tekun dalam pengabdian rohani kepada Tuhan. Inilah jalan yang dianjurkan dalam bab ini; karena itu, tidak dapat diragukan bahwa bhakti adalah satu-satunya jalan mutlak untuk keinsafan diri, yaitu untuk mencapai kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Paham Kebenaran Mutlak Yang Paling Utama yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan, sebagaimana diuraikan dalam bab ini, dianjurkan hanya sampai saat seseorang menyerahkan Diri-Nya untuk keinsafan diri. Dengan kata lain, selama seseorang belum mendapat kesempatan untuk bergaul dengan seorang penyembah yang murni, paham yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan mungkin bermanfaat. Dalam paham Kebenaran Mutlak yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan, seseorang bekerja tanpa mencari hasil atau pahala, bersemadi dan mengembangkan pengetahuan untuk mengerti tentang alam dan hal-hal rohani. Ini diperlukan selama seseorang tidak bergaul dengan seorang penyembah yang murni. Untungnya, kalau seseorang mengembangkan keinginan untuk menekuni kesadaran Krishna secara langsung dalam bhakti yang murni, ia tidak perlu menjalankan perbaikan langkah demi langkah dalam keinsafan diri. Bhakti, sebagaimana diuraikan dalam enam bab pertengahan Bhagavad-gita, lebih serasi. Seseorang tidak perlu khawatir tentang bahan-bahan untuk memelihara jiwa dan raganya, sebab atas karunia Tuhan segala sesuatu dilaksanakan dengan sendiri-Nya.
Demikianlah selesai penjelasan Bhaktivedanta mengenai Bab Dua belas Srimad Bhagavad-gita perihal Pengabdian Suci Bhakti."