advesÌ£tÌ£Ä sarva-bhÅ«tÄnÄmÌ
maitraḥ karuṇa eva ca
nirmamo nirahaÅ„kÄrahÌ£
sama-duḥkha-sukhaḥ kṣamī
santusÌ£tÌ£ahÌ£ satatamÌ yogÄ«
yatÄtmÄ drÌ£dÌ£ha-niÅ›cayahÌ£
mayy arpita-mano-buddhir
yo mad-bhaktaḥ sa me priyaḥ
advesÌ£ṭėtidak iri; sarva-bhÅ«tÄnÄm—terhadap semua makhluk; maitraḥ—ramah; karunÌ£aḥ—murah hati; evÄ—pasti; ca—juga; nirmamaḥ—bebas dari rasa memiliki sesuatu; nirahaÅ„kÄraḥ—bebas dari keakuan yang palsu; sama—sama; duhÌ£kha—dalam dukacita; sukhaḥ—dan kebahagiaan; ksÌ£amī—memaafkan;santusÌ£tÌ£aḥ—puas; satatam—selalu; yogī—orang yang tekun dalam bhakti; yata-ÄtmÄ—mengendalikan diri; drÌ£dÌ£ha-niÅ›cayaḥ—dengan ketabahan hati; mayi—kepada-Ku; arpita—tekun; manaḥ—pikiran; buddhiḥ—dan kecerdasan; yaḥ—orang yang; mat-bhaktaḥ—penyembah-Ku; saḥ—dia; me—kepada-Ku; priyaḥ—dicintai.
Sekali lagi Krishna membicarakan soal bhakti yang murni dan menguraikan kwalifikasi rohani seorang penyembah yang murni dalam dua ayat ini. Seorang penyembah murni tidak pernah goyah dalam keadaan manapun. Penyembah murni juga tidak iri kepada siapapun. Seorang penyembah tidak menjadi musuh bagi musuhnya; dia berpikir, Orang ini sedang bertindak sebagai musuh saya karena perbuatan salah yang telah saya lakukan dahulu kala. Karena itu, lebih baik menderita daripada mengadu." Dalam Srimad-Bhagavatam (10.14.8) dinyatakan: tat te 'nukampam susamiksamano bhunjana evatmakrtam vipakam. Bilamana seorang penyembah berdukacita atau sudah jatuh ke dalam kesulitan, dia berpikir itu karunia Tuhan terhadap Diri-Nya. Dia berpikir, Akibat kesalahan saya dari dahulu seharusnya saya menderita jauh lebih banyak daripada penderitaan yang saya alami sekarang. Karena itu, atas karunia Tuhan Yang Maha Esa, saya tidak mendapat segala hukumannya yang seharusnya saya terima. Saya hanya diberi hukuman kecil, atas karunia Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa." Karena itu, dia selalu tenang, diam dan sabar, meskipun ia mengalami banyak keadaan yang menyedihkan. Seorang penyembah selalu baik hati kepada semua orang, bahkan terhadap musuhnya sekalipun. Nirmama berarti seorang penyembah yang tidak begitu mementingkan rasa sakit dan kesulitan yang menyangkut badan, sebab ia mengetahui secara sempurna bahwa Diri-Nya bukan badan jasmani. Ia tidak mempersamakan Diri-Nya dengan badan; karena itu, dia bebas dari paham keakuan palsu dan dia seimbang, baik dalam suka maupun duka. Dia bersikap toleransi, puas dengan apa yang diperolehnya atas karunia Tuhan Yang Maha Esa. Dia tidak berusaha terlalu banyak untuk mencapai sesuatu yang mengharuskan ia mengalami kesulitan yang besar. Karena itu, dia selalu riang. Dia ahli kebatinan yang sempurna dan lengkap karena dia mantap dalam pelajaran yang diterima dari guru kerohaniannya. Oleh karena indera-inderanya sudah terkendalikan, ia bertabah hati. Dia tidak dipengaruhi oleh argumentasi yang palsu, sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengalihkan penyembah dari ketabahan bhakti yang mantap. Ia sadar sepenuhnya bahwa Krishna adalah Tuhan Yang Mahaabadi. Karena itu, tiada seorangpun yang dapat mengganggu Diri-Nya. Segala kwalifikasi tersebut memungkinkan ia memusatkan pikiran dan kecerdasannya sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Standar bhakti seperti itu tentu saja jarang sekali dicapai, tetapi seorang penyembah menjadi mantap pada tingkat itu dengan cara mengikuti prinsip-prinsip yang mengatur bhakti. Di samping itu, Krishna menyatakan bahwa penyembah seperti itu sangat dicintai-Nya, sebab Krishna selalu senang dengan segala kegiatan penyembah itu yang sadar akan Krishna sepenuhnya.